Mengawali Kisah Hidup Di Malam Seribu Kebaikan

 





Melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang "Islam ala �Cafetaria�", tidak diragukan lagi bahwa memang Islam sangat memberi kebebasan terhadap umatnya dalam melakukan sesuatu, termasuk dalam hal ibadah. Sebagai manusia tentunya kita sudah familiar dengan istilah qadha & qadhar; sesuatu yang sudah ditetapkan dari sebelum kita lahir dan ketetapan/kenyataan yang terjada sebenarnya di dunia.



Jika dihubungkan keduanya, maka akan ada korelasi antara tulisan saya sebelumnya "Islam ala �Cafetaria�" dengan istilah qadha & qadhar. Dalam Islam ala �Cafetaria�, manusia diberi kebebasan untuk menentukan tujuan hidupnya (jalan yang ia akan tempuh) tentunya dengan rambu-rambu tertentu, sedangkan dalam ketetapan qadha dan qadhar juga demikian yaitu untuk ketetapan yang akan terjadi (qadhar) bisa saja berbeda dengan sebelumnya (qadha) tergantung dari manusia yang menerimanya. Perbedaan itu dimungkinkan, karena manusia memiliki akal dan nafsu.



Pada binatang, misalkan saja seekor singa, qodho yang dimilikinya adalah memakan daging, maka ketika dia hidup tidak mungkin dia menjadi vegetarian. Artinya antara qadha dan qadhar-nya sama, tidak berubah. Sedangkan untuk manusia, qadha-nya adalah misalnya harus memakan makanan halal. Akan tetapi pada kenytaannya banyak diantara manusia yang memakan makanan haram. Jadi antara qadha & qadhar bisa saja berubah pada manusia, sedangkan untuk makhluk selain manusia adalah sama (tidak berubah).



Karena qadhar (ketetapan yang belum terjadi) dapat berubah pada manusia, maka ia bisa saja menjadi lebih baik atau buruk. Dan qadhar itu berkaitan erat dengan Lailatul Qadr (Malam Kemuliaan), karena setiap ketetapan manusia yang berkaitan dengan qadha & qadhar-nya akan direvisi/dievaluasi pada malam itu (kalau gak salah ada ayat atau hadits-nya tapi saya lupa). Saat itulah kesempatan kita untuk memperbaiki ketetapan �qadhar� kita, yang mudah-mudahan harapannya adalah menjadi lebih baik lagi, bukan sebaliknya. Sesuatu yang dapat merubah takdir kita adalah dengan kekuatan doa, seperti firman-Nya:



"Dan dialah yang menerima Taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan," (As Syura : 25)

 

Dalam ayat lain juga disebutkan:

"Berdoalah kepada-Ku(Allah), niscaya akan Aku kabulkan"



Doa yang sering diucapkan tatkala pada malam 10 terakhir Ramadhan, untuk mendapatkan kebaikan dalam �qadhar� kita selanjutnya;



 




Doa malam Lailatul Qadr






Sungguh beruntung orang-orang yang berkesempatan waktu untuk melakukan i�tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan serta beribadah (berdzikir) kepada Allah, karena ribuan malaikat yang dipimpin oleh Ruhul Qudus (malaikat Jibril) akan mendoakan manusia yang beribadah pada malam lailatul qadr.



Mumpung baru hari ke-21, masih ada kesempatan untuk mengharap malam seribu kebaikan dan meningkatkan ibadah kita di akhir Ramadhan.

 



Q.S. Al-Qadr:1-5




1. Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Quran) ini pada Malam Lailatul-Qadar,

2. Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui apa dia kebesaran Malam Lailatul-Qadar itu?

3. Malam Lailatul-Qadar lebih baik daripada seribu bulan.

4. Pada Malam itu, turun malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun yang berikut);

5. Sejahteralah Malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar!



Wallahu a�lam, semoga Allah selalu melimpahkan kebaikan kepada kita,.





-Ramadhan 21, 1430H-



Islam Ala ’Cafetaria’

Ada cerita tentang seorang anak laki-laki, kedua orang tua anak itu selalu mengajarkan kepadanya, bahwa tidak perlu dia memperdalam dan berprestasi dalam agama. Untuk kegiatan beragama, cukuplah dengan sekedar mengikuti atau meniru dari orang secara biasa saja, toh lama-lama juga nanti tau dan bisa. Jadi, belajar agama dengan sungguh-sungguh dianggapnya kurang perlu. Untuk kegiatan ibadah, keduanya mengajarkan, cukuplah yg wajib2nya saja seperti sholat 5 waktu dan shaum ramadhan, yang lain apalagi perkara sunnah, tidak perlulah dipaksakan untuk menjalankannya. Intinya, bekal agama (ibadah) itu asal cukup saja untuk memenuhi ’KEBUTUHAN’ sebagai kewajiban makhluk, bukan merupakan ’KEINGINAN’ dari makhluk terhadap Rabb-nya.

Akan tetapi, untuk urusan pendidikan umum(dunia) kedua orang tua itu sangat menekankan kepada anaknya untuk mencari dan belajar dengan sungguh-sungguh, serta harus mencapai prestasi yang memuaskan. Tidak heran, oleh karenanya sang anak selalu saja menjadi yang terdepan dan berprestasi mulai dari SD, SMP, SMA, bahkan ketika masuk di perguruan tinggi (Teknik Elektro) yang ada lambang gajah duduknya, sering dikirim mengikuti perlombaan dan juara, serta lulus dengan predikat cum laude. Setelah luluspun, dia diterima bekerja dengan mudah di Telkom Bandung.

Suatu saat, ketika sedang berada di sebuah masjid, sang anak yang sudah menjadi seorang pemuda dewasa ditanyai oleh seseorang. Orang ini sering memperhatikan pemuda tersebut, setiap ia membawakan khutbah jumat di masjid itu dan juga peng-khutbah lain, sering ia mendapati pemuda tersebut terisak-isak. sehingga pada suatu kesempatan, ia langsung bertanya kepada sang pemuda karena iapun sangat kenal terhadap sosok tersebut. Semenjak kuliah, sampai bekerja sekarang pemuda ini tinggal mengontrak di rumah miliknya.

"Wahai anak muda, aku perhatikan setiap kau mendengarkan khutbah jumat di masjid ini, sering kudapati kau meangis terisak-isak. Apa yang menyebabkan hal yang demikian?", Tanya sang Imam masjid.

Pemuda itupun menjawab; "Sungguh aku sangat menyesal karena selama ini telah menyia-nyiakan banyak waktu yang aku miliki. Aku tidak pernah belajar agama dengan benar dan sungguh-sungguh. Aku lebih mengutamakan belajar ilmu yang bersifat duniawi. Ingin rasanya saya berdiri di depan, di atas mimbar untuk berbagi ilmu. Namun, membaca Al-quran saja aku tidak pernah, bahkan tidak bisa. Rasanya ilmu yang saya punya hanya sia-sia. Sungguh saya akan sangat bangga jika bisa berbagi ilmu agama seperti Bapak."

Hidup berislam laksana di ’Cafetaria’. Semua manusia bebas memilih serta menentukan tujuan hidupnya, sesuai kehendak hatinya. Akan tetapi kita mungkin perlu menyimak sebuah hadits (mohon koreksi kalo salah redaksinya) kira-kira sebagai berikut;

Suatu ketika Rasulullah SAW didatangi oleh malaikat Jibril, kemudian Ia mengajukan beberapa pernyataan kepada Muhammad:

"Hai Muhammad, silahkan kamu berbuat sekehendak hatimu. Namun kamu harus ingat akan datang kematian kepadamu".,

Kemudian Jibril berkata lagi:
"Hai Muhammad, Ssilahkan kamu mencintai dengan sebesae-besarnya cinta (dunia). Namun kamu harus ingat, dia ada batasnya di dunia".,

Lalu Jibril berkata lagi:
"Hai Muhammad, silakan kamu berbuat sekehendak hatimu. Namun kamu harus ingat, Allah akan membalasnya nanti".


Umat muslim yang hidupnya ala di ’cafetaria’ mungkin mesti mengingat hadits tersebut. Rambu-rambu yang sering terlupakan, hingga kebebasannya berlebihan. Na’udzubillah...

Lalu apakah sebenarnya tujuan hidup manusia di dunia? Tidaklah lain hanya ’KEMATIAN’.

Wallahu a’lam bishowab-

*Just sharing aja, moga saja bermanfaat dan yang penting bisa bikin "FULL" ibadah qita di bulan Justify Fullramadhan ini...

- Ditulis kembali dari khutbah Jum’at masjid Al-Muntsyir-Bandung, 14 Ramadhan 1430 H -

Posted in Cerita. 0 Comment »

Investasi Berharga Seorang Ayah (oleh-oleh Kuliah Subuh Ramadhan Hari Pertama)

Dua orang kakak-beradik (kakaknya berumur 10 tahun, sedangkan adiknya 7 tahun) saat hari pertama Ramadhan berjalan ke sebuah pemakaman dengan digenggam erat oleh tangan ibunya. Seharusnya sesaat sebelum fajar datang, mereka bersama-sama dengan sang ayah melakukan sahur bersama. Namun Allah berkehendak lain, tepat sebelum subuh sang ayah sudah keburu dipanggil oleh Dzat pemilik hidup (Allah SWT). Seharusnya awal Ramadhan adalah waktu yang sangat indah dan berharga bagi sebuah keluarga kecil.

Mereka mengiringi jasad sang ayah dengan pikiran entah mengerti atau tidak dengan apa yang terjadi. Mereka hanya menjawab dengan senyum yang sangat polos (khas anak-anak) ketika sanak saudara dan tetangga memberi semangat. Mereka hanya mengetahui bahwa sang ayah telah dijemput oleh Allah, karena Allah sayang  ayah mereka, itu kata sang ibu ketika mereka bertanya. Sang ibu berusaha tegar sembari membesarkan hati anaknya.

Setelah proses pemakaman selesai, tanpa disuruh sang ibu, kedua kakak beradik ini langsung berdoa di atas pusara ayah mereka. Doa yang sangat sederhana, doa umum yang sering dibaca oleh anak-anak; An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, serta doa untuk dua orang tua; "Rabbiqhfirlii waliwalidaiya warhamhumaa kamaa rabbayanii saghiraa", sang kakak memimpin doa. Ketika sang ibu menyaksikan apa yang dilakukan oleh kedua anaknya, beliau menjadi sangat terharu dan berkaca-kaca seraya bersyukur kepada Allah karena ia dan sang ayah telah telah merasa memberikan jalan serta pendidikan yang benar terhadap kedua anaknya, sesuai kapasitas mereka sebagai seorang anak kecil.

Sungguh investasi yang sangat berharga, meski sang ayah hanya bertemu 7 tahun, serta 10 tahun dengan anak tertuanya. Namun, ia akan tersenyum disana dengan rasa bangga. Sungguh beruntung menjadi orangtua dua anak kecil itu.

-suatu pagi, awal ramadhan 1430H-

 

Posted in Cerita. 0 Comment »

RISALAH TA’ALIM

Bissmillahirohmanirrohim

 “Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (At-Taubah:105)

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (al-An’am:153)

Sepuluh Rukun Baiat.,

Terdapat sepuluh rukun baiat yang dirisalahkan oleh Imam Hasan Al-Banna, dimana sepuluh rukun itu bukan saja ditujukan untuk jamaah Ikhwanul Muslimin, akan tetapi kalau kita telaah lebih jauh dapat diterapkan oleh umat muslim secara luas karena sifatnya yang umum. Sepuluh rukun itu adalah: fahm (pemahaman), ikhlas, amal (aktifitas), jihad, tadhiyah (pengorbanan), taat (kepatuhan), tsabat (keteguhan), tajarrud (kemurnian), ukhuwah, dan tsiqah (kepercayaan).

Dalam tulisan ini, saya hanya akan menyajikan rukun yang pertama saja dahulu. Tulisan ini saya ambil dari buku “Risalah Pergerakan Al-Ikhwan Al-Muslimin” jilid 2 terbitan Era Intermedia yang berjudul asli “Majmu’ah Risa’ilil Imam Asy-syahid Hasan Al-Banna”.

Penempatan ‘Fahm’ sebagai rukun pertama juga ternyata ada maksudnya, seperti kita beriman. Sebelum beriman, maka kita sebenarnya berilmu terlebih dahulu. Segala tindakan yang kita lakukan hendaknya disertai dengan ilmu, jika tidak, maka bisa saja yang kita lakukan itu sia-sia, seperti berbuat tanpa tujuan. Allah AWT pun menurunkan Al-Quran diawali dengan penyeruan terhadap berilmu”Iqra”.

‘Fahm’

Fahm (pemahaman) yang dimaksud adalah engkau yakin bahwa fikrah kita adalah ‘fikrah islamiyah yang bersih”. Hendaknya engkau memahami Islam, sebagaimana kami memahaminya dalam batas-batas ushul al-‘isyrin (duapuluh prinsip) yang sangat ringkas berikut ini.

Pertama, Islam adalah sistem menyeluruh yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia adalah akidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.

Kedua, Al-Quran yang mulia dan Sunah rasul yang suci adalah tempat kembali setiap Muslim untuk memahami hukum-hukum Islam. Ia harus memahami Al-Quran sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tanpa takalluf (memaksakan diri memaknai suatu ayat tanpa memiliki nash pendukung yang lain, hanya mengandalkan pendapat sendiri tanpa menyandarkannya pada pengetahuan bahasa Arab) dan ta’assuf (serampangan). Selanjutnya, ia memahami Sunnah yang suci melalui  rijalul hadits (perawi hadits) yang terpercaya.

Ketiga, Iman yang tulus, ibadah yang benar, dan mujahadah (kesungguhan dalam beribadah) adalah cahaya dan kenikmatan yang ditanamkan Allah di hati hamba-Nya yang Dia kehendaki. Sedangkan ilham, lintasan perasaan, ketersingkapan (rahasia alam), dan mimpi bukanlah bagian dari dalil hukum-hukum syariat. Ia dapat pula dianggap dalil asalkan tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama dan teks-teksnya.

Keempat, jimat, mantra, guna-guna, ramalan, perdukunan, penyingkapan perkara ghaib, dan semisalnya, adalah kemungkaran, yang harus diperangi, kecuali mantra dari ayat Al-Quran atau ada riwayat dari Rasulullah SAW.

Kelima, pendapat imam atau wakilnya tentang sesuatu yang tidak ada teks hukumnya, tentang sesuatu yang mengandung ragam interpretasi, dan tentang sesuatu yang mebawa kemaslahatan umum, dapat diamalkan sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah umum syariat.  Ia mungkin berubah seiring perubahan situasi, kondisi, dan tradisi setempat. Prinsipnya, ibadah itu diamalkan dengan kepasrahan total tanpa mempertimbangkan makna. Sedangkan dalam urusan selain ibadah (adat istiadat), harus mempertimbangkan maksud dan tujuannya.

Keenam, setiap orang boleh diambil atau ditolak kata-katanya, kecuali al-ma’shum (Rasulullah) SAW. Setiap yang datang dari kalangan salaf dan sesuai dengan Kitab dan Sunnah, kita terima. Jika tidak sesuai dengannya maka kitabullah dan Sunnah rasul-Nya lebih utama untuk diikuti. Namun demikian, kita tidak boleh melontarkan kepada orang-orang karena sesuatu yang diperselisihkan dengannya – kata-kata caci maki dan celaan. Kita serahkan saja terhadap niat mereka, dan mereka telah berlalu dengan amal-amalnya.

Ketujuh, setiap muslim yang belum mencapai kemampuan telaah dalil-dalil hukum furu’(cabang), hendaklah mengikuti pemimpin agama. Meskipun demikian, alangkah baiknyajika – bersamaan dengan sikap mengikutinya ini – ia berusaha semampunya untuk mempelajari dalil-dalilnya. Hendaknya, ia menerima setiap masukan yang disertai dengan dalil selama ia percaya dengan kapasitas orang yang memberi masukan itu. Hendaknya, ia menyempurnakan kekurangannya dalam hal ilmu pengetahuan jika ia termasuk orang yang pandai, sehingga mencapai derajat penelaah.

Kedelapan, khilaf dalam masalah fiqih furu’(cabang) hendaknya tidak menjadi faktor pemecah belah dalam agama, serta tidak menyebabkan permusuhan dan tidak juga kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu, tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap persoalan khilafiyahdalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah untuk menuju kepada kebenaran. Semua itu dengan tanpa melahirkan sikap egois dan fanatik.

Kesembilan, setiap masalah yang amal tidak dibangun  diatasnya - sehingga menimbulkan perbincangan yang tidak perlu – adalah kegiatan yang dilarang secara syar’i. Misalnya memperbincangkan berbagai hukum tentang masalah yang tidak benar-benar terjadi, atau memperbincangkan makna ayat-ayat Al-Quran yang kandungan maknanya tidak dipahami oleh akal pikiran, atau memperbincangkan tentang perihal perbandingan keutamaan dan perselisihan yang terjadi di antara para sahabat (padahal masing-masing dari mereka meiliki keutamaannya sebagai sahabat Nabi dan pahala niatnya). Dengan takwil (menafsirkan baik perilaku para sahabat) kita terlepasz dari persoalan.

Kesepuluh, makrifat kepada Allah dengan sikap tauhid dan penyucian (Dzat)-Nya adalah setinggi-tinggi tingkatan akidah Islam. Sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadits-hadits sahih tentangnya, serta berbagai keterangan mutasyabihat yang berhububgan dengannya, kita cukup mengimaninya sebagaimana adanya tanpa takwil dan ta’thil, serta tidak memperuncing perbedaan yang terjadi di antara para ulama. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada, sebagaimana rasulullah SAW dan para sahabatnya mencukupkan diri dengannya.

“...dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami......"  (Ali-‘Imran:7)

Kesebelas, setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya, tetapi dianggap baik oleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan maupun pengurangan, adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan cara yang terbaik, yang tidak justru menimbulkan bid’ah lain yang lebih parah.

Kedua belas, perbedaan pendapat dalam masalah bid’ah Iidhafiyah (bid’ah penambahan), bid’ah tarkiyah (bid’ah penolakan), dan iltizam (membuat peraturan-peraturan bagi ibadah yang bersifat mutlak) terhadap ibadah muthlaqah (yang tidajk ditetapkan, baik cara maupun waktunya) adalahperbedaan dalam masalah fiqih. Setiap orang memiliki pendapat sendiri. Namun tidaklah mengapa jika dilakukan penelitian untuk mendapatkan hakikatnya dengan dalil dan bukti-bukti.

Ketiga belas, cinta kepada orang-orang yang shaleh, memberikan penghormatan kepadanya, dan memuji karena pengaruh baiknya adalah bagian dari taqarub kepada Allah SWT. Sedangkan para wali adalah mereka yang disebut dalam firman-Nya, yaitu “…orang-orang yang beriman dan mereka itu bertakwa. Karamah pada mereka itu benar-benar terjadi jika memenuhi syarat-syarat syar’i-nya. Semua itu dengan suatu keyakinan bahwa mereka  - semoga Allah meridhai mereka – tidak memiliki mudarat dan manfaat bagi dirinya, baik ketika masih hidup maupun setelah mati, apalagi bagi orang lain.

Keempat belas, ziarah kubur – kubur siapapun – adalah Sunnah yang disyariatkan dengan cara-cara yang diajarkan Rasulullah SAW. Namun, meminta pertolongan pada penghuni kubur siapapun mereka, berdoa kepadanya, memohon pemenuhan hajat (baik dari jarak dekat maupun kejauhan), bernazar untuknya, membangun kuburnya, menutupinya dengan satir, memberikan penerangan, mengusapnya (untuk mendapatkan berkah), bersumpah dengan selain Allah, dan segala sesuatu yang serupa dengannya adalah bid’ah besar yang wajib diperangi. Selain itu, juga janganlah mencari takwil (pembenaran) terhadap berbagai perilaku itu, demi menutup pintu fitnah yang lebih parah lagi.

Kelima belas, doa. Apabila diiringi tawasul kepada Allah dengan salah satu makhluk-Nya adalah salah satu perselisihan furu’ menyangkut tata cara berdoa, bukan termasuk masalah akidah.

Keenam belas, istilah (keliru) yang sudah mentradisi (seperti riba Bank) tidak mengubah hakikat hukum syar’i-nya. Akan tetapi, ia harus disesuaikan dengan maksud dan tujuan syariat itu, dan kita berpedoman dengannya. Di samping itu, kita harus berhati-hati terhadap berbagai istilah yang menipu (misalnya prinsip Islam sangat peduli dhuafa, sering dijadikan hujah bagi orang yang ingin mengatakan bahwa sosialisme itu juga Islami), yang sering digunakan dalam pembahasan masalah dunia dan agama. Ibrah  itu ada pada esensi di balik suatu nama; bukan pada nama itu sendiri.

Ketujuh belas, akidah adalah fondasi aktivitas; aktivitas hati lebih penting dari aktivitas fisik. Namun, usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syariat, meskipun kadar tuntutan masing-masing berbeda.

Kedelapan belas, Islam itu membebaskan akal pikiran, menghimbaunya untuk melakukan telaah terhadap alam, mengangkat derajat ilmu dan ulamanya sekaligus, dan menyambut hadirnya segala sesuatu yang melahirkan maslahat dan manfaat.  Hikmah adlah barang hilang milik orang yang beriman (mukmin). Barangsiapa mendapatkannya, ialah orang yang paling berhak atasnya.

Kesembilan belas, panduan syar’i dan pandangan logika memiliki wilayahnya masing-masing yang tidak dapat saling memasuki secara sempurna. Namun demikian, keduanya tidak pernah berbeda (selalu beririsan) dalam masalah yang qath’i (absolut). Hakikah ilmiah yang benar tidak mungkin bertentangan dengan kaidah-kaidah syariat yang tsabitah (jelas). Sesuatu yang zhanni (interpretatif) harus ditafsirkan agar sesuai dengan yang qath’i. jika yang berhadapan adalah dua hal yang sama-sama zhanni maka pandangan yang syar’i  lebih utama untuk diikuti sampai logika mendapatkan legalitas kebenarannya, atau gugur sama sekali.

Keduapuluh, kita tidak mengafirkan seorang Muslim yang telah mengikrarkan dua kalimah syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, baik karena lontaran pendapat maupun kemaksiatannya, kecuali dia mengatakan kata-kata kufur, mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama, mendustakan secara terang-terangan Al-Quran, menafsirkannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterpretasikan, kecuali dengan tindakan kufur.

Apabila seorang muslim memahami ajaran Agamanya dengan batasan kaidah-kaidah di atas, berarti ia telah mengetahui makna syiarnya:”Al-Quran adalah dusturi kami dan rasul adalah  qudwah kami.”

Allahu akbar...!!!

Di sadur dari: - “Majmu’ah Risa’ilil Imam Asy-syahid Hasan Al-Banna” -


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Islami. 10 Comment »

Golput Vs Golhit

Berbicara tentang politik dan pemerintahan memang tidak ada habis2nya. Apalagi di negeri yang konon kata Paman Sam, layak dijadikan sebagai contoh negara yang berhasil menerapkan sistem Demokrasi. Ya, meskipun mungkin sebagian besar masyarakatnya menganggap hal itu sebagai akal-akalan saja agar Indonesia tidak pernah lepas dari cengkraman si Paman Sam ini. Masyarakat kita memang perlu meliliki pemikiran yang lebih cerdas tentang hal ini.

Belum lagi ulah nakal para wakil rakyat negeri ini yang banyak terjerat kasus korupsi, skandal-skandal yang menghebohkan dan lainnya. Akibatnya menurut beberapa Lembaga Survey Nasional, kepercayaan masyarakat terhadap para wakil rakyat itu cenderung menurun. Kerugiannya bisa langsung ditebak,...adalah PEMILU, sebuah hajatan besar negara yang dilaksanakan tiap lima tahun ini sekali ini, dikhawatirkan sepi peminat alias "golput".

Iya, istilah aneh bin ajaib... Istilah ini pertma kali saya ketahui saat pemilu 2004 silam, pemilu kedua setelah masa reformasi dan pemilu kedua yang diikuti oleh banyak partai yg semula hanya tiga bersaudara saja yang jadi partisipan. Kenapa saya bilang aneh bin ajaib? Saat 2004, waktu itu saya masih lugu-lugunya, dan lucu-lucunya bila mesti tahu tentang politik. Maklum, baru peralihan dari anak SMA yg kadang masih suka ingusan ke status yang lebih tinggi bernama Mahasiswa.

Saat itu, saya sedang mengikuti suatu proses bagi mahasiswa baru yang tak asing ditelinga, yaitu OSPEK. Konon katanya proses ini sbg prasyarat buat masuk himpunan, terlebih lagi agar lebih mengetahui tentang kepemimpinan, organisasi, manajemen, profesionalitas, dll. Gak perlu lah dibahs panjang lebar, semua mahasiswa itb pasti tahu itu. Salah satu acara dalam kegiatan itu adalah, mewawancara mahasiswa yang ada di KM-ITB, untuk mengetahui, apakah pada PEMILU 2004 dulu mereka akan memilih? Kalo ya, apa Partai yang akan dipilih?! Saat itulah saya dapet istilah Golput, karena Mahasiswa Senior yang saya tanya, dia menjawab "Golput".

So, what’s the matter with golput? Saat itu belum tahu apa arti sebenarnya tentang golput. Pikiran saya saat itu adalah, Mahasiswa Senior yang saya tanya itu akan memilih Partai Islam, karena Dia bilang golput. Dalam benak saya, Golput atau golongan putih, bagus donk...!!!,, daripada golongan hitam., hihhh....syerrremmm.

"Golongan Putih vs Golongan Hitam - Golput vs Golhit"

Tapi alhamdulilah, segera setelah pemilu 2004 itu, saya tahu maksud golput itu apa sebenarnya..., apalagi sekarang....., jangan ditanya...

So, tentukan pilihanmu.....partai A, partai B, atau Partai Golput....????!!!
Eh tau ga? Pemilu tanggal 9 april lho....???!!!

- Lg ga jelas nulis-

Posted in Politik. 0 Comment »